Senin, 04 Mei 2015

Pembuatan Brand

IdeHebat : Puluhan Juta datang dari membungkus makanan.

            Bisnis saat ini sangat berkembang sangat pesat, terbukti dengan banyaknya bidang usaha yang berkembang baik di bidang otomotif, busana, gaya hidup bahkan makanan. Bisnis pada dasarnya memang sangat menggiurkan terlebih lagi dengan iming-iming pendapatan tertentu. Namun yang perlu di ingat adalah ketika kita akan terjun pada dunia bisnis tertentu perlunya  kita mengamati peluang, peluang yang dimaksudkan adalah kemungkinan terjun di bidang usaha tersebut, hal ini perlu untuk dilakukan agar pada praktik bisnisnya tidak mendapatkan tekanan yang begitu berat. Sebab tekanan ini akan muncul ketika kita terjun di bidang usaha yang sudah ada pendahulunya dan namanya jauh lebih beken dari usaha yang kita rintis.
             Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi mengenai peluang/prospek bisnis dari membungkus makanan, kegiatan membungkus makanan ini bukan berarti bekerja pada suatu perusahan, namun mengerjakan sendiri untuk keuntungan sendiri. Ide usaha ini muncul ketika saya berjalan-jalan ketempat wisata, dimana pada saat itu saya menemukan sebuah makanan local yang rasanya jauh lebih enak dari makanan yang saya beli di took-toko pada umumnya.
Dari situ muncul gagasan dari otak saya untuk membeli dalam jumlah yang banyak dan kemudian menjualnya kembali, namun sebelum saya memutuskan pembelian dalam jumlah yang banyak saya mencoba untuk melakukan observasi terlebih dahulu.
Obervasi yang saya lakukan adalah membandingkan harga makanan yang berbungkus dan tidak berbungkus, ketika kita belanja di supermarket atau minimarket kita sering melihat makanan ringan seperti keripik tela, kacang telor dll, dimana harga kisaran harga dari makanan tersebut adalah antara Rp.6.000:- sampai  Rp.9.500:-,/ 90gram+/- padahal ketika saya membeli keripik di tempat pembuat keripik harganya hanya sekitar Rp.4.000/kg, harga tersebut hanya tanpa bungkus dan tanpa lebel, secara umum untuk rasa dan kualitas sama. Observasi saya tidak berhenti di situ, ketika saya berkunjung di Gunungkidul saya mencoba mencicipi makanan khas Gunungkidul yaitu Thiwul, Thiwul gunungkidul yang saya pusat oleh-oleh gunungkidul hargnya Rp.10.000/bungkus beratnya sekitar 200gram, sedangkan ketika saya membeli Thiwul Gunungkidul yang berada di pasar arjosari gunungkidul harganya Rp.7.000/porsi beratnya sekitar 800gram + sambel dan lauknya. Hanya saja Thiwul gunungkidul yang ada di pasar arjosari disajikan secara langsung tanpa ada bungkus, untuk masalah rasa, jauh lebih nikmat yang berada di pasar arjosari.
            Asumsi saya untuk membuat produk Thiwul Gunungkidul adalah harga ketela per-kg adalah Rp.700 sedangkan per-Kg ketela dapat digunakan untuk membuat +/- 800kg, untuk membuat sablon+bungkus snak adalah Rp.300/biji dan untuk memasak ketela per-kg dibutuhkan uang gas sebsar Rp.1.500/kg ketela. Maka total biaya yang di keluarkan untuk membuat 4 bungkus Thiwul Gunungkidul adalah Rp.5500/200gram, sedangkan jika di jual per bungkus adalah Rp.7.000 maka dapat di pastikan kita untung sebesar Rp.22.500 setiap 4 bungkus Thiwul yang terjual.
Observasi saya masih berlangsung di beberapa tempat, namun setiap tempat yang saya datangi mempunyai hasilnya sama, yaitu makanan yang menggunakan bungkus tradisional (piring, daun atau yang lainnya) harganya lebih murah daripada makanan yang sudah dibungkus secara modern. Satu hal yang menjadi kata kunci, bungkus moderen bukanlah bungkus yang mahal, namun bungkus yang moderen adalah bungkus yang mempunyai design menarik, atraktif dan mencerminkan isi dari bungkus tersebut.
Hasil observasi saya dapat disimpulkan bahwa makanan yang mempunyai bungkus yang moderen/menarik jauh lebih laku daripada makanan tanpa bungkus, dan dari hasil observasi tersebut saya melanjutkan observasi saya pada bidang pengadaan bungkus dan design, design hampir pasti tidak mengelurkan biaya besar sebab banyak sekali design dari internet yang dapat diunduh secara gratis, tinggal kita memodifikasi sendiri. Sedangkan untuk membuat bungkus + sablon bungkusnya harganya tergantung jenis bungkus yang digunakan, apabila plastik maka harganya sekitar Rp.300/lembar, sedangkan apabila kertas harganya sekitar Rp.600/lembar. Sedangkan untuk membuat ijin usaha rumahan hanya bermodalkan bensin menuju kantor perijinan usaha.
Maka biaya yang dikeluarkan untuk sekali operasi adalah Rp.1.700.000/1000 bungkus keripik pisang dimana masing-masing keripik beratnya 180gram, murah bukan? Dan keuntungannya pun dapat di perkirakan sendiri. Nah apabila saudar berminat untuk terjun di bidang usaha ini, peluang masih terbuka lebar, selain minim pesaing saudara juga bisa memanfaatkan orang-orang disekitar saudara untuk diajak bekerjasama. Namun yang paling penting adalah memulai usaha harus melihat peluang,resiko dan kemungkinan berhasil, agar pepatah jawa tidah keluar “Ojo gebyah Uyah” yang artinya asal-asalan.
Oke terimakasih udah dibaca semoga bermanfaat dan salam sukses untuk pengusaha muda Indonesia J J J J J J

0 komentar:

Posting Komentar

Unordered List

Blog Archive

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget